Buku identik dengan ilmu pengetahuan. Museum Kupang ibarat buku yang tak pernah dibuka, tak banyak orang tertarik , padahal ia adalah sebuah khasanah pengetahuan bukan sekedar formalitas.
|
Museum, tempat tenang dan menyenangkan |
|
Yangti bersama Mima dan Albi |
.
|
Penjelasan Saat PD II di Kupang |
Kedahsyatan saat Perang
Dunia II di Kupang dapat dilihat dari banyaknya Goa Jepang di Kota Kupang,
khususnya di sekitar bandara El Tari hingga radius sekitar 5 km. Bunker-bunker
berdinding beton peninggalan tentara Jepang bs kita temui saat masuk bandaa el
Tari. Dari Bukit yang menghadap laut ini bias kita bayangkan kesiagaan tentara Jepang
dengan moncong2 meriam menghadang musuhnya.
|
Gua gua bekas Bunker tentara Jepang |
|
Bukit menghadap laut, meriam Jepang menghadang musuhnya di PD II |
Di museum kita mendapat cerita
lengkapnya, termasuk fisik meriamnya pula.
Pada cluster etnografika
dijelaskan suku-suku di NTT. Ada sekitar 10-12 suku dengna ciri khas kain tenunnya.
Ada suku Rote yg terkenal dengan topi nya, suku Bajawa, Alor, Ende, Komodo dan
lainnya. Sayang disini kita tidak dapat memotret jelas ke khas an tenun karena
kain2 ini tersimpan di lemari kaca.
|
Tenun NTT-berkumpul di beberapa etalase toko
|
Tradisi
sirih- pinang juga pasti ada di seluruh masyarakat tradisional Asia Tenggara.
Di Timor, wadah kotak atau berbentuk
kobokan disebut kobi. Terbuat dari daun lontar atau daun gewang, pandan, kulit
bambu, dianyam dalam berbagai corak/motif. Kadang dihias manik-manik – yang
juga merupakan ciri masyarakat tradisional yang konon berasal dari India.
|
Wadah Sirih - Pinang dari daun lontar atau daun gewang
|
Daun
lontar dan daun gewang sangat berarti dalam menunjang kehidupan penduduk Flobamora ( flores, sumba, timor dan alor). Daunnya
untuk atap rumah terutama untuk rumah lopo,
bunganya disadap untuk diminum, dijadikan gula dan camilan atau
difermentasi menjadi tuak. Bahkan sebelum dikenal benang, maka kulit kayunya
dijadikan benang dan dianyam untuk bahan baju atau layar perahu yang tahan
angin karena kuat seratnya. Daun lontar atau gewang dapat digunakan untuk tas, untuk
resonansi dawai sasando di Rote tapi sekarang sudah dikenal sebagai music NTT. Untuk
atap rumah, bahan dari gewang bisa
bertahan lebih dari 10 tahun, sedangkan dari lontar bisa bertahan 5 – 6 tahun
|
Gedung Gubernur- Model Sasando -alat musik dari Rote |
Jadi teman2 traveler - jangan ragu untuk mampir ke museum sebelum menapaki destinasi wisata NTT, biaya
masuk sekitar 2000 rupiah kalau tdk salah, lokasi di tengah kota Kupang dan mudah
dijangkau kita bisa mendapatkan segudang
ilmu, itulah museum.
0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda